![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
Asvi Warman Adam Dari Gestok Sampai Pulau Buru Hersri Setiawan, Kamus Gestok, Yogyakarta, Galang Press, 2003, 315 hal Hersri Setiawan, Aku Eks Tapol, Yogyakarta, Galang Press, 2003, 466, hal Hersri Setiawan, Memoar Pulau Buru, Magelang, IndonesiaTera, 2003, 572 hal. BULAN September 2003 empat karya Hersri Setiawan diluncurkan. Salah satunya “Negara Madiun?” yang merupakan revisi/perluasan dari buku yang sudah diterbitkan tahun 2002. Sedangkan tiga buku lainnya merupakan terbitan baru –meskipun sebagian artikel sudah beredar di internet— tentang pengalaman penulis sejak masa kecil sampai dibuang ke pulau Buru. Hersri Setiawan lahir di Yogyakarta tahun 1936. Sejak kuliah di UGM dan Asdrafi Yogya ia sudah menjadi penggiat pers dan kebudayaan. Perjalanan hidup membawa Hersri menjadi aktivis Front Nasional dan Lekra serta wakil Indonesia dalam organisasi pengarang Asia-Afrika di Kolombo (1961-1965). Pergantian rezim di Srilangka menyebabkan Hersri pulang ke Jakarta Agustus 1965 dan justeru sebulan kemudian menjumpai perebutan kekuasaan secara berdarah di tanah air. Hersri kemudian menjadi tapol (tahanan politik) Orde Baru tahun 1969 sampai Desember 1978 di penjara Salemba, Tangerang dan akhirnya di pulau Buru. Selepas dari Buru, Hersri dengan menyandang predikat ET (eks-tapol) menjadi penulis, editor dan penerjemah yang sering kali terpaksa memakai nama samaran. Ia memenangkan lomba esai yang diselenggarakan oleh majalah Prisma/LP3ES (“Masalah Pendewasaan Anak-Anak di pulau Buru”) dan Dewan Kesenian Jakarta (“Pengantar Kajian Ranggawarsita”). Mantan Ketua Lekra Jawa Tengah ini pernah menjadi editor Ikhtiar Baru-Van Hoeve yang menerbitkan Ensiklopedi Indonesia 7 jilid (sekitar 4500 halaman). Trilogi nasional Buku-buku ini baru bisa terbit setelah peristiwanya berlalu selama 38 tahun. . Sesudah Soeharto jatuh tahun 1998 sebetulnya karya ini telah siap cetak, namun ternyata trauma dan stigma yang direkayasa selama beberapa dekade itu masih tetap menghantui. Naskah-naskah ini pun mengalami perpindahan penerbit. Gestok adalah istilah yang digunakan oleh Presiden Sukarno untuk menyebut gerakan yang terjadi pada dinihari tanggal 1 Oktober 1965 yang melakukan penculikan terhadap beberapa orang Jenderal. Pelaku peristiwa itu sendiri menamakan dirinya “Gerakan 30 September” tetapi pentolan Angkatan Darat menyebutnya “Gestapu” agar bisa diasosiasikan masyarakat dengan Gestapo Jerman yang kejam itu. Seperti halnya di dunia sastra dan film dikenal istilah trilogi (novel atau film yang ceritanya berangkai menjadi tiga), maka di lingkungan tapol juga terdapat konsep yang sama. Tragedi nasional 1965 sebetulnya merupakan trilogi yang terdiri dari G30S, pembantaian 1965/1966 dan kamp konsentrasi di pulau Buru. Ketiganya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan, rentetan peristiwa yang berkelanjutan, yang satu diikuti oleh yang lainnya. Mengenai G30S sudah banyak tulisan yang diterbitkan dalam bentuk buku atau artikel di media massa. Namun yang jarang dibahas adalah pembunuhan massal yang mengakibatkan jatuh korban minimal ½ juta jiwa tahun 1965/1966. Demikian pula dengan peristiwa penahanan politik di pulau Buru tahun 1969-1979. Dua hal yang terakhir ini betul-betul absen dalam pelajaran sejarah di sekolah. “Pembasmian PKI sampai ke akar-akarnya” merupakan komando dari Jenderal Nasution yang di lapangan diterapkan sesuai kondisi daerah. Penghancuran PKI itu dilakukan dengan metode kebalikan dari proses pembakaran obat nyamuk (sebutlah metode kontra obat nyamuk). Obat nyamuk biasanya mulai terbakar pada lingkaran paling luar. Dalam pemusnahan kelompok kiri dan pendukung Bung Karno dilakukan mulai dari lingkaran paling dalam, kemudian bertahap pada lingkaran kedua, seterusnya sampai lingkaran paling luar. Lingkaran paling dalam adalah tokoh PKI yang dibunuh tanpa diadili seperti Aidit dan Nyoto, serta mereka yang termasuk tapol golongan A yang diajukan ke Mahmilub. Lingkaran kedua adalah tapol golongan B yang sebagian (sebanyak 10.000 orang) dibuang ke pulau Buru. Lingkaran ketiga adalah tapol golongan C yang diwajibkan melapor kepada aparat keamanan, sedangkan lingkaran keempat adalah keluarga mereka yang dianggap “tidak bersih lingkungan”. Tindakan yang diambil terhadap tapol golongan B itu termasuk kebijakan penanganan terhadap mereka yang dianggap terlibat langsung atau tidak langsung dengan G30S. Namun pembuangan ke pulau Buru tidak terlepas dari kebijakan nasional untuk mengamankan pemilu tahun 1971 yang merupakan pemilu pertama sejak Orde Baru. Tahun 1966 MPRS telah memutuskan bahwa pemilu dilangsungkan bulan Juli 1968. Soeharto yang diangkat menjadi Presiden penuh Maret 1968 merasa belum siap. Untuk mengamankan “pesta demokrasi” itu, maka 10.000 orang tapol golongan B secara bertahap dibuang ke sebuah pulau terpencil di wilayah Indonesia bagian Timur. Tentunya ada alasan lain yaitu karena timbulnya gerakan kelompok kiri di Blitar Selatan yang berjumlah kecil sekitar 100 orang. Kamus Gestok Istilah atau bahasa secara keseluruhan berhubungan dengan budaya, lingkungan dan vision du monde (pandangan dunia) suatu masyarakat. Jadi ada atau tidak adanya suatu istilah berkaitan dengan lingkungan dan budaya komunitas tersebut. Pada suku Eskimo misalnya ditemukan berbagai kata untuk membedakan es secara rinci. Suku Yoruba, Nigeria menyebut “kaki gunung” sebagai pantat gunung, karena mereka memandang postur gunung itu sebagai makhluk yang sedang duduk, berbeda dengan sudut pandang penutur bahasa Inggris atau Indonesia yang melihatnya dalam posisi berdiri. Mengenai kata duduk dalam bahasa Jawa terdapat 20 kata yang bermakna serupa itu, sedangkan dalam bahasa Indonesia terdapat lima kata dan tiga kata dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Perancis terdapat minimal 7 kata yang mengacu kepada anggur. Pada bahasa Inggris, kata legs mengacu kepada kaki manusia/hewan, tetapi dalam bahasa Spanyol, patas adalah kaki banteng, sedangkan kaki matador disebut piernas. Di dalam kamus yang terdiri dari 240 entri, istilah G30S dan yang menyangkut pulau Buru cukup banyak tetapi agak jarang istilah mengenai pembunuhan massal 1965 (kecuali satu dua seperti “di-mangkubumi-kan atau “di-sukabumi-kan”). Di dalam kamus Gestok ini dijumpai hal-hal yang dilakukan sehari-hari di penjara di pulau Jawa maupun di Buru. Terdapat beberapa jenis apel bendera, termasuk apel sapi yaitu memperlakukan tapol bagai sapi yang dihitung oleh gembala. Mereka di pulau Buru bekerja sejak jam 4 pagi dan kadang-kadang sampai tengah malam. Selain itu mereka dikenai beberapa jenis korve atau kerja paksa antara lain “korve lendir” (lendir=sperma) yaitu para tapol pria yang dipaksa melayani seks komandan atau mendukung komandan menyeberangi sungai ketika berkunjung ke rumah pacar gelapnya. Di dalam kamus ini tidak terlihat rasa dendam, kecuali kesan negatif terhadap tentara seperti ulat yang dalam semalam menghabiskan tanaman mereka di pulau Buru disebut “ulat tentara”. Tujuh orang korban G30S disebut Tuparev (tujuh pahlawan revolusi). Praktek homoseks yang terutama dilakukan pada salah satu unit di sana, tergambar dalam istilah “sakit mata”, maksudnya pelakunya tidak bisa lagi membedakan mana pria mana wanita. Tak ada gading yang tak retak. Kamus ini tentu tak luput dari beberapa kekeliruan. Misalnya Orde Baru dikatakan dimulai 11 Maret 1966. Saya kurang sependapat karena itu berarti bahwa pembantaian 1965 tidak termasuk tanggung jawab rezim ini. Lebih tepat kalau disebutkan tanggal 1 Oktober 1965 dimulai rezim berdarah ini. Demikian pula dengan Ibu Negara, Fatmawati yang ditulis diceraikan oleh Sukarno. Sepengetahuan saya, beliau tidak serumah setelah Sukarno menikah lagi dengan Hartini. Biasanya pada akhir pekan, Bung Karno menginap di Istana Bogor. Senyampang Sukarno pergi ke Bogor, Ibu Fatmawati menengok anak-anaknya di Istana Merdeka. . Memang istilah dalam kamus ini terbatas yang dipergunakan di Jawa dan Buru. Di Sumatera misalnya dikenal istilah “Kanai Saratuih”. Tahun 1964-1965 para buruh Caltex itu membayar iuran untuk Perbum (Persatuan Buruh Minyak) sebanyak Rp 100 per bulan. Ini mirip dengan iuran wajib Korpri yang berlaku semasa Orde Baru. Setelah peristiwa 1965, perusahaan Caltex masih membutuhkan tenaga buruh tersebut. Baru tahun 1985 setelah tenaga personilnya memadai, para buruh yang membayar iuran Rp 100 itu meskipun bukan aktivis Perbum di”rumah”kan. Yang terkena kasus ini disebut “Kanai Saratuih” (“kena seratus”) maksudnya dipecat, gara-gara uang seratus perak. Tapol Pulau Buru Dalam buku “Aku Eks Tapol” memang dikisahkan pengalaman masa kecil Hersri dan kegiatannya di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Organisasi ini didirikan 17-8-1950 untuk mengimbangi Sticusa yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia-Belanda seusai KMB (Konferensi Meja Bundar). Lekra melakukan kegiatan turba (turun ke bawah), artinya penggiat kesenian itu turun ke desa untuk melakukan “sama kerja, sama makan, sama tidur” dengan petani. “Seni untuk Seni” atau “Seni untuk Rakyat” tampaknya wacana yang kini perlu diperdebatkan kembali. Dalam buku ini Hersri membahas tentang kesenian rakyat seperti lagu “Hidup di Bui”, “Genjer-genjer”, Himne “Bagimu Negeri”, Soyang (opera anak petani di bawah bulan purnama), Ketoprak, dll. Posisinya pada organisasi ini yang membuat Hersri akhirnya dibuang ke pulau Buru. Di dalam “Memoar Pulau Buru”, Hersri menceritakan penderitaannya dipekerjakan sebagai “budak yang terisolasi di sebuah pulau tanpa tahu sampai kapan”. Namun di balik kesengsaraan yang sulit dibayangkan tertanggungkan oleh manusia, Hersri dan kawan-kawan membuktikan manusia bisa disiksa dan dibunuh, namun kemanusiaan tak pernah mati. Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, Lektor Bahasa Indonesia pada Institut National des Langues et Civilisations Orientales, Paris, 1984-1986. Sumber: Gatra, no 47, 11 Oktober 2003 | |||||||
| Copyright © 2000 |