![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
Asvi Warman Adam Umat Katolik Prorepublik Ketika Yogyakarta diserbu Belanda dan Presiden Soekarno ditangkap, Gereja Katholik tetap setia kepada Republik yang masih muda. G.Budi Subanar, SJ, Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang: Catatan Harian Mgr A.Soegijapranata SJ, 13 Februari 1947-17 Agustus 1949, Yogyakarta: Galang Press, 2003, 409 halaman. BUKU ini berasal dari catatan harian Mgr A Soegijapranata selama periode kritis Republik Indonesia. Sejak 3 Januari 1946, Soekarno-Hatta beserta jajarannya memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta. Ini dalam rangka menyelamatkan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan. Sejalan dengan itu, Mgr Soegijapranata memperlihatkan dukungan kepada pemerintah RI dengan memindahkan pusat pelayanan umat Katholik dari Semarang ke Yogya. Hal tersebut dilakukan sejak tanggal 13 Februari 1947, setelah sehari sebelumnya Presiden Soekarno mengumumkan gencatan senjata dengan pihak Belanda. Sebanyak 200 keluarga Katholik yang berada di Ambarawa ikut hijrah ke Yogyakarta, setelah kota itu diserang tentara Belanda. Menurut George Kahin, meskipun agresi militer Belanda itu dapat merebut lebih separuh wilayah pulau Jawa, namun 40.000 dari 46.000 orang Katholik di Jawa, berada di wilayah yang dikuasai Republik. Catatan harian Mgr Soegijapranata ditemukan oleh Budi Subanar ketika melakukan penelitian untuk disertasinya di Kantor Keuskupan Semarang tahun 1997. Arsip itu terdiri kertas lepas berisi tulisan tangan sebanyak 172 halaman, umumnya ditulis dalam bahasa Jawa (kecuali beberapa ungkapan dalam bahasa Belanda dan Indonesia) Di dalam naskah tersebut ditemui beberapa hal bersifat pribadi seperti soal kesehatan Mgr Soegija, kegiatan uskup yang bertanggungjawab atas kehidupan rohani umatnya, sampai kepada aktivitas yang secara politis berdampak luas. Soegija berpidato di pemancar radio Purwasari, Surakarta menyerukan gencatan senjata. Hal tersebut dilakukan setelah terjadinya penembakan pesawat di Maguwo Yogyakarta. Catatan rinci ditulis Soegija mengenai agresi militer Belanda kedua, 19 Desember 1948. Ia tak lupa menulis tentang serangan yang berlangsung di berbagai tempat, suasana ketakutan masyarakat karena penembakan, penangkapan dan penahanan oleh Belanda serta pengungsian warga. Penjarahan juga dilakukan oleh warga Indonesia sendiri. Terhadap kekerasan yang dilakukan militer Belanda Mgr Soegija melontarkan kritik tajam “ …aksi militer itu telah diadakan untuk merebut kembali apa yang telah hilang, melakukan pembalasan buat segala kekalahan, menghidupkan kembali apa yang sudah tidak ada, memperbaiki dengan kekerasan senjata dan pertunjukan kekuatan semua noda dan penghinaan yang telah diderita”. Bersama dengan George Kahin, Mgr Soegija sempat menulis surat pembaca pada sebuah majalah yang terbit di Amerika Serikat. Sehubungan dengan agresi militer kedua ini, Mgr Soegija sempat memberikan saran kepada Sri Sultan Hamengkubowono IX lewat kurir agar beliau tidak meninggalkan istana dan tetap bersama rakyat. Jika Sultan ikut bergerilya, semakin besar peluang pihak Belanda melakukan kekerasan terhadap penduduk dan mungkin pula terjadi perpecahan di dalam kraton (apabila Belanda melakukan taktik divide et impera) Soegija lahir di Solo 25 November 1896 dan meninggal di negeri Belanda 22 Juli 1963. Jenasahnya dibawa ke Indonesia dan dimakamkan di makam pahlawan Giritunggal Semarang. Ia diangkat sebagai pahlawan nasional dengan SK Presiden RI no 152 tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963. Sumbangan kepada sejarah Indonesia Buku ini di samping mengisahkan fragmen kehidupan seorang tokoh agama dalam masa kritis yang dialami Republik ini, juga memberi sumbangan kepada penulisan sejarah Indonesia. Pertama, buku ini mengingatkan pentingnya keragaman sumber sejarah. Arsip gereja adalah salah satu sumber sejarah yang selama ini diabaikan. Kita mengetahui bahwa di Eropa, arsip paroki itu dapat dijadikan sebuah karya klasik seperti Montaillou, village occitan de 1294 à 1324 yang ditulis sejarawan Prancis terkemuka Emmanuel Le Roy Ladurie. Kedua, buku ini memperkaya perspektif penulisan sejarah periode revolusi fisik yang selama ini menekankan peran elit militer dan sipil dalam perjuangan melawan Belanda, dengan memberi perhatian kepada rakyat yang mempunyai berbagai permalahan dan mengalami kesulitan dalam situasi perang. Ketiga, catatan ini memperlihatkan posisi yang diambil Gereja Katholik ketika negara ini dalam situasi kritis (1947-1949), mereka berpihak kepada Republik. Keempat, sebagian dari catatan harian ini pernah diserahkan kepada Kraton Jogyakarta pada peringatan serangan oemoem 1 Maret 1949 tahun lalu. Catatan itu mendukung fakta bahwa sebetulnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX penggagas serangan oemoem tersebut bukan Soeharto. Kelima, meskipun catatan harian itu terkadang singkat, sebetulnya mendukung data sejarah yang lain. Pada buku Keith Foulcher (2000) misalnya diungkapkan, peringatan Sumpah Pemuda dirayakan besar-besaran sejak 1958 ketika terjadi pergolakan daerah (PRRI/Permesta). Tatkala dirasakan disintegrasi bangsa, maka dibutuhkan simbol pemersatu yaitu Sumpah Pemuda. Padahal 28 Oktober 1948 misalnya hanya diperingati sebagai 20 tahun lahirnya himne “Indonesia Raya” yang diciptakan WR Supratman. Pada saat itu Mgr Soegijapranata diundang Presiden Soekarno ke Istana Yogyakarta dalam rangka upacara tersebut. Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris. Sumber: Gatra, No 52, 15 November 2003, dengan sedikit pemotongan | |||||||
| Copyright © 2000 |