![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
Asvi Warman Adam Penting, Permintaan Maaf Pemerintah kepada Rakyat SEJARAWAN Asvi Warman Adam mengatakan permintaan maaf Pemerintah kepada rakyat menjadi hal yang penting mengingat banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi di negara ini. Hal tersebut diungkapkan oleh Asvi menjawab pertanyaan KCM berkenaan dengan ide permintaan kompensasi dari Belanda soal penjajahan selama 200 tahun di Indonesia. Atas ide yang mencuat kembali pada seminar di Jakarta pada Selasa-Rabu (3-4) September kemarin, Asvi memberikan catatan. Masalah kompensasi secara tidak langsung sudah dibayarkan Belanda melalui berbagai cara. Belanda menjadi koordinator lembaga donor bagi Indonesia seperti di IGGI. Belanda juga memberikan beasiswa baik dalam hubungan bilateral maupun institusional. "Jadi kalau yang dituntut adalah kompensasi secara fisik, Belanda akan mengatakan pihaknya sudah membayar," ujarnya kala dihubungi KCM di Jakarta, Kamis (5/9). Maka, pertanyaan yang lebih mendalam adalah soal seberapa pentingnya permintaan Belanda kepada Indonesia berkenaan dengan palanggaran HAM dimaksud. "Permintaan maaf memang menjadi penting secara simbolis bahwa ada pernyataan bahwa satu pihak melakukan pelanggaran HAM terhadap yang lainnya," kata Asvi. Kendati begitu, Asvi mengingatkan, Pemerintah Indonesia pun sebetulnya terlebih dahulu harus meminta maaf kepada rakyatnya atas segala pelanggaran HAM, paling tidak sejak 1965. Hal tersebut menjadi pokok pertimbangan sebelum tuntutan yang sama diarahkan kepada pemerintah Belanda atas sejarah masa lalu. Oleh karena itulah, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang rancangan undang-undangnya mengalami kemacetan harus benar-benar ditindaklanjuti secara serius sampai pada tingkat realisasi. Utamanya, bagi Indonesia yang diharapkan Asvi secara tidak langsung bisa menilik lebih dahulu masalah di dalam dibandingkan memandang ke luar. "Meski dua hal itu, soal permintaan maaf Belanda atau pun permintaan maaf pemerintah kepada rakyatnya bisa dijalankan bersamaan," tegasnya.*(prim) Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris. Sumber: Kompas Cyber Media, Jumat, 06 September 2002, 7:07 WIB | |||||||
| Copyright © 2000 |