![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
Kawan Lawan Sesama Seniman Oleh Kohar Ibrahim SAMPAI pada catatan berkaitan dengan Penulis Tiga Bersaudara Aidit, saling-hubungan aktivitas dan kreativitasnya, termasuk hubungan yang akrab, kekeluargaan juga yang bersifat lokal, nasional dan internasional itu. Yang menggelitik hati, yakni hubungan kawan, persahabatan di antara seniman yang hakiki. Sekalipun bisa pula terjadi, dalam periode yang gawat, sementara pihak-pihak yang bersahabat tak tahan menghadapi ujian. Sehingga dari kawan berubah menjadi lawan. Yang seringkali, di atas pentas perpolitikan, terwujudkan tindakan yang didasari sikap dan pendirian masing-masing. Jika demikian, masalahnya memang bukan lagi murni hubungan persahabatan sebatas hubungan pribadi yang manusiawi melainkan telah berbauran dengan hal yang menyangkut politik atau kekuasaan politik. Situasi dan kondisi kehidupan memang bisa mempengaruhi jalinan persahabatan antara manusia. Di alam demokratis berbeda dengan alam yang anti-demokratis atau diktatorial. Dalam mana sosok-sosok pribadi kembali mengalami ujian: mampukah masing masing saling menghindari diri dari kepicikan pandang dan menghindari kontaminasi arogansi atau kecemburuan kekuasaan dan penguasa? Apalagi jika sang kekuasaan atau penguasa itu sifatnya diktatorial? Hegemonis? Otoritaris? Totalitaris? Saya utarakan catatan berkenaan saling-hubugan aktivitas-kreativitas seniman dan persahabatan ini, pertama-tama dengan mengambil contoh Sobron dan Asahan. Sekalian sebagai anjak-anjang untuk juga mengutarakan hubungan para seniman dan sastrawan lainnya secara umum. Sosok-sosok pekerja kebudayaan lainnya, baik yang senior maupun yunior, yang saya kenal sejak di Indonesia maupun dalam masa “kelayaban” di mancanegara. Kenal melalui pertemuan dari dekat secara langsung maupun yang berjarak jauh atau tidak langsung. Namun selalu sarat akan ciri utamanya yang mendasar, yakni terjalinnya hubungan berkat aktivitas-kreativitas seni masing-masing. Begitulah! Seperti contohnya jalinan hubungan persahabatan antara sastrawan Sobron dan Asahan Aidit dengan sastrawan Ajip Rosidi sebagaimana telah terindikasi di bagian terdahulu rangkaian tulisan ini. Tidak terjadi mendadak atau akhir-akhir ini saja, melainkan berlangsung sejak mereka masih muda. Pada awal tahun-tahun limapuluhan abad lalu. Pada suatu awal kurun waktu yang bagi orang-orang seperti kami kerap kali menimbulkan nostalgia. Karena adanya rasa kesenimanan yang akrab suka berbagi. Bukan saja berbagi perasaan dan pikiran, tapi juga seringkali bagi-bagi “rezeki nomplok” berupa honorarium hasil tulisan yang disiarkan. Sekalipun hanya sekedar secangkir kopi dan sepiring nasi goreng atau rendang padang! Bagi penulis, apalagi sebagai pemula, mengetahui kreasinya diterima lantas disiarkan memang merupakan hal yang penting sekali. Apalagi dengan itu mendapat imbalan uang atau honorariumnya. Rasanya seperti berpesta saja. Salah satu kenangan yang tak terlupakan oleh Asahan Aidit dalam mengayomi tali persahabatannya memang berlangsung di warung-warung Pasar Senen, Jakarta. Pada saat ditraktir oleh Ajip Rosidi. “Ada satu kenangan yang kami sering-sering masih mengingatnya,” kata Asahan dalam pengakuannya kepada saya, “yaitu ketika suatu hari Ajip mentraktir saya makan nasi goreng di satu warung di Pasar Senen. Ia memperhatikan saya yang sedang makan lalu bertanya: ‘Makannya kok lambat amat sih, San?’ Lantas saya jawab: ‘Menikmati, Jip, menikmati yang jarang terjadi. Makin lambat, kenikmatan itu semakin lama umurnya’. Maka Ajip spontan tertawa. Asahan pun mengaku, bahwasanya dia mengenal Ajip Rosidi ketika sedang sekolah di Taman Madya (Taman Siswa) di Jalan Garuda 25 Jakarta. Selain dari situ, juga di tempat kediamannya di Kepu Dalam Jakarta. Pasalnya, ketika itu Sobron adalah teman akrabnya Ajip. Dari sekian lama perkenalan mereka itulah, Asahan mempunyai penilaian khusus atas Ajip. “Sejak muncul di arena sastra,” menurut Asahan, “Ajip sudah dikenal sebagai wonderkind, genial, karena karya-karyanya yang cepat matang, dewasa dalam umurnya yang ketika itu baru tujuhbelasan. Produktivitasnya tinggi, kualitas tulisan maupun sajak-sajaknya stabil meninggi, meningkat dan terus menerus bisa ditemui pembaca di banyak majalah-majalah terkemuka di waktu itu. Seperti Mimbar Indonesia, Indonesia, Kisah, Zenith dan banyak media-media Kebudayaan dan kesenian lainnya di Ibu kota maupun di tempat lain.” Dalam upaya menjawab pertanyaan yang saya ajukan, selanjutnya menurut Asahan, Ajip mempunyai kepribadian yang menonjol, terutama kekritisannya, kecerdasannya dan ketajamannya dalam menanggapi semua soal. Ia punya reaksi yang sederhana tapi sesungguhnya briliant karena ke-orisinilannya dalam berpikir dan memberikan reaksi. Selain itu ia juga cepat menimbulkan kesan sombong pada orang yang kurang mengenalnya dan juga pada orang yang sudah lama mengenalnya. Sifat arogan padanya memang ada tapi itu mungkin sebagai akibat spontanitas kecepatannya berpikir dan bereaksi hingga ia kurang memikirkan segi diplomatis dalam pergaulan hingga sering ia kurang taktis dan luwes dalam bergaul. Dan bagaimana dalam hal membina persahabatan? Menurut Asahan, bersahabat dengan Ajip Rosidi, termasuk bukan selalu mudah. Ia bisa ramah, tapi punya sifat otoriter, kadang-kadang ia bisa rendah hati tapi juga sangat mudah tinggi hati. Tapi saya kira yang terbaik dari Ajip sebagai manusia, ia suka menolong orang, kemanusiaannya tinggi dan saya kira dia tidak suka munafik, berani mengemukakan pikiran terhadap orang yang berlawanan pendapat dengannya meskipun teman yang paling akrab sekalipun. Dan bila terjadi kontra pendapat? Kata Asahan, kadang-kadang Ajip agak agresif (suaranya) dan kalau berdebat selalu hangat dan bisa sengit. Dia bisa dijadikan teman yang menyenangkan bila dapat memberikan toleransi yang lebih banyak dengan sedikit kesabaran. Ia juga jujur dalam memberikan pendapat dan menilai dan itu bisa menimbulkan kurang senang hati bagi yang mendengar. Akan tetapi, benarlah kesan saya, salah satu faktor amat penting yang membikin persahabatan antar seniman itu terutama sekali adalah hal yang berkaitan dengan hasil kreasinya masing-masing. Adanya perhatian atau penghargaan satu sama lain. Apalagi jika hal itu ditindak-lanjuti dengan upaya penerbitan karya tulis atau upaya pameran karya lukis. Khususnya dalam hal ini, Ajip memang bukan saja menaruh perhatian atau memberikan penghargaan selayaknya, melainkan juga seperti telah diketahui, membantu Asahan untuk menerbitkan buku kumpulan puisinya berjudul “Menangisi Viet Tri” dan roman pertamanya berjudul “Perang dan Kembang.” Sekalipun, naskah roman yang diserahkan kepada Ajip tahun 1989 itu baru terbit dalam tahun 2002! Setelah menanti sekian lama! Rupanya hal itu sudah sangat amat difahami Asahan. Karena “setiap pengarang atau penulis memang selalu diuji dan diteror oleh waktu, sejak ia mulai menulis, mencari penerbit, menunggu kiriman bukti terbit yang semua itu adalah siksaan seperti menunggu vonnis hakim: dihukum atau diampuni. Pengampunan yang paling besar bagi pengarang adalah bila karyanya diterbitkan untuk bisa dibaca orang banyak. Apa yang lebih bahagia dari itu. Sedangkan hukuman yang paling berat bagi pengarang adalah bila karangannya ditolak, tidak ada yang mau menerbitkan, padahal ia sudah bekerja keras memeras semua tenaga dan bakatnya. Apa yang lebih menderita daripada ditolak atau tak mendapatkan penerbit. Tapi itulah dunia pengarang dan penulis: antara hukuman dan amnesti. Tapi saya tidak menyesal memilih menulis meskipun lebih sering dihukum daripada mendapat amnesti karena itulah dunia saya.” Asahan memang cukup beralasan untuk tidak menyesali jejak langkahnya sebagai penulis. Apalagi jika diingat, sekalipun telah banyak mengalami asam-garam kehidupan secara umum maupun khususnya sebagai penulis, tapi toh ada hasil karyanya diterbitkan dan kini beredar menemukan pembacanya. Apalagi pula, dia merasa bangga lantaran punya seorang sahabat penulis yang selain mampu sekali menghargainya juga membantu menerbitkan karya-karyanya tersebut. Hal itu terjadi bukan semata-mata karena hubungan persahabatan, melainkan, seperti pengakuan sekaligus penilaian Asahan sendiri, Ajip Rosidi adalah seorang editor yang berkualitas master. Seorang yang rajin, suka berterus terang, bertanggungjawab dan tahu persis apa yang harus dia lakukan. Apa yang diutarakan Asahan itu memang ada benarnya. Dalam batas-batas tertentu saya adalah salah seorang yang turut menyaksikannya. Terutama sekali ketika saya sendiri sempat bertukar pikiran secara langsung dengan Ajip di tempat kediaman Asahan di negeri Kincir Angin. Kemudian, selain sering berhubungan surat menyurat dan telpon, Ajip sempat mengunjungi saya untuk menghabiskan waktu week-endnya di Brussel. Salah satu impresi saya atas sosok tokoh semacam Ajip adalah berupa sajak yang dimuat majalah Kreasi nomor 26, berjudul “Penimbang-nimbang” (Untuk Ka Ros): Kita telah banyak bicara / Sampai malam larut / Sebelum tarik selimut kau bersujut / Juga sebelum fajar merekah / Kau sembahyang di sisi ku dan berdoa. Dalam keheningan pagi yang bening / Berdoakah kau? / Bagi ruh-ruh kaum miskin dan papa tak berdosa / Gugur kerna terfitnah kanca-kancamu yang durjana? / Bagi kanca-kancamu yang berkepala berhati batu ? / Bagi kanca-kancamu yang membuta tuli? / Bagi yang alpa akan ajaran / Bahwasanya, mereka yang membuta tuli di dunia ini / membuta tuli pula di akhirat nanti? / Dan ganjaran terdahsyat bagi mereka menanti? Dari dekat maupun dari jauh / Ku kenal kau seorang penimbang nimbang / Berdaya upaya menunaikan tugas mulia / Sebagai mana mestinya / Mengukur panjang pendek berat ringan / Sebagai mana mestinya / Kerna keadilan berdasar kebenaran adalah luhur dan indah. Ku yakin, kau kutuk pepalsuan dan fitnahan / Ku tahu, kau setia pada keyakinan dan pendirianmu / H a k m u ! Aku juga menimbang nimbang / Demi keadilan berdasar kejujuran kebenaran / Akhirul kalam : / Juru Timbang Yang Maha Tahu jugalah yang paling menentukan. Baris-baris tersebut saya tulis sebagai hasil renungan pada 30 September menjelang dinihari 1 Oktober 1995. Sekedar catatan mengenang terjadinya Tragedi Nasional yang berkelanjutan dengan aksi teror yang sistematis. Sejak itu terjadi perubahan yang dahsyat dalam kehidupan masyarakat manusia Indonesia, termasuk di kalangan budayawan atau senimannya. Kami tahu dan memahami bagaimana posisi sosok seniman semacam Ajip Rosidi terhadap terjadinya perubahan situasi di Nusantara itu, yang pada tahun-tahun pertama berdirinya Orde Baru — sebagaimana juga sementara seniman lainnya — berada di atas angin. Akan tetapi, dalam pergaulan sebagai manusia lagi pula sebagai seniman, ternyata dia memang telah membuktikan dirinya selaku orang yang berjiwa bebas dan karenanya mampu melangsungkan hubungan kenalan atau persahabatan yang selayaknya.* A. Kohar Ibrahim, Penulis adalah pemerhati sosio budaya, penulis, pelukis -- tamatan Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles (Akademi Senirupa). Biodatanya antara lain dapat disimak dalam Who''s who in International Art - international biographical Art dictionary, edisi Loussane Swiss 1988. Sumber: Batam Pos, 11 Agustus 2003 | |||||||
| Copyright © 2000 |