Free Web Hosting Provider
-
Web Hosting
-
E-commerce
-
High Speed Internet
-
Free Web Page
Search the Web
Free Web site hosting - Freeservers.com
perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa
rubrik
home
artikel
biografi
historiografi
gallery
historia
link
about us
kontak
buku tamu
ARTIKEL
1 -
2
-
3
-
4
Ngak-Ngik-Ngok
OLEH BUDI SETIYONO
RUMAH
keluarga Koeswojo lengang. Di sebuah rumah kayu yang menjorok ke kanan dari pintu gerbang, dua orang laki-laki sibuk dengan aktivitas masing-masing. Djon membaca koran, sedang Yok sibuk mengikir batu akik. Sesekali dua pria yang rambutnya memutih di sana-sini itu bercakap-cakap.
Rumah kayu yang tertembus pohon belimbing wuluh yang sedang berbuah itu terasa sesak. Ada dua batu granit bulat tinggi dan satu pahatan kayu berbentuk babi. Gong besar dan kecil tergantung di samping kanan. Burung kayu bergoyang-goyang tertiup angin tergantung di langit-langit. Di dindingnya terpajang wayang kulit, dan hiasan batu dan kayu kecil-kecil di sisi lainnya. Ada juga rak kayu.
Djon duduk di satu dari empat kursi kayu dengan jok pilinan bambu. Yok duduk di kursi lipat, menghadap gerinda yang ditempatkan di sebuah meja kecil. “Saya punya hobi batu akik sejak kecil. Jika menemukan batu bagus, ya diambil,” ujar Yok sambil mengikir.
Di sebuah rak panjang batu-batu belum dikikir berserakan. Di bawahnya, di dekat pohon mangga, beberapa batu terendam air dalam mangkuk-mangkuk plastik. Di dekatnya ada sikat, gayung, dan batu asah.
“Kalau saja tak ada sidang istimewa, saya sudah jalan-jalan ke desa-desa. Urun rembug sambil melihat-lihat pemandangan dan memancing.”
Yok anak lelaki terakhir di keluarga Koeswojo. Ia menyelesaikan sekolahnya di SMA Triguna, Jakarta. Memancing adalah hobi lamanya. Berburu sudah lama ia tinggalkan, karena berkurangnya refleks tangan. Hewan piaraannya seperti ular, kura-kura, kasuari, merak, dan burung sudah tak ada lagi.
Yok menyalakan korek berbentuk peluru, kemudian mendekatkan api pada rokoknya. Ia juga mengoleksi korek api. Yok kemudian meneruskan kikirannya. Sesekali ia berhenti untuk melihat hasilnya sembari mengisap rokok.
“Ya begini, Mas, daripada mikirin negara, bikin pusing, mendingan ngikir batu akik, bisa bikin hati senang,” ujar Yok yang mengenakan baju dan celana klaso berwarna putih. Katanya, itu sebagai bentuk protesnya terhadap kondisi negara yang tak karuan. “Kami dulu mengingatkannya lewat lagu, tapi tak juga mau berubah, kepala batu.”
Agak sulit menemui laki-laki ini. Ini kali pun ia mau karena didesak Djon.
“Saya ini orangnya susah, tergantung mood. Kalau mau kumpul ya kumpul. Diminta rekaman, kalau lagi malas saya nggak mau. Soal sehari-hari juga tak begitu pusing-pusing. Kadang ada yang kasih (uang), atau dapat royalti kalau lagu saya dipakai. Saya tak ingin manggung. Lagu banyak. Idenya dari mana-mana. Kalau ada yang mau merekam ya rekam,” ujar Yok.
“Begini saja, Mas. Kalau Anda punya jalan, tolong kakangku ini juga bisa menulis, tulisannya banyak. Tolong dicarikan hubungan yang baik agar bisa dirilis. Karena Mas Djon ini juga perlu sandang-pangan.”
“Tapi isinya umum,” Djon menyela.
“Ya terserah, yang jelas Anda kan suka nulis.”
“Nulis, filsafat dan umum.”
“Tujuannya kan biar bisa dibaca.
Wong
di pasar itu juga ada
dodolan
(jualan). Sampeyan dodolan atau tidak?”
“
Dodolan
. Tapi
dodolan
itu kan ada misinya.”
Djon, anak pertama Koeswojo, terakhir bekerja di Pembangunan Perumahan sebagai astimeter dan quality surveyer. Kemudian keluar untuk membantu pembangunan studio milik adik-adiknya. Sempat pula beternak ikan, ayam broiler, dan babi. Keseharian Djon diisi dengan membaca, menulis, dan berselancar di dunia maya.
“Saya masih mencari penerbit untuk buku saya,” ujar lelaki beruban yang memakai baju lurik putih-biru yang dibiarkan tak terkancing dengan kaos oblong di dalamnya. Jins warna krem membalut kakinya.
Yok kembali ke kursinya, mengikir batu akik berwarna putih. Djon kemudian lebih banyak bicara, meski kemudian berkali-kali dipotong Yok. Sebuah
tape recorder
yang sudah ia persiapkan tergeletak di atas meja. Ia mau ikut merekam pembicaraan ini.
“
KAMI
ini anak seorang pensiunan camat di Tuban. Karena Bapak bekerja sama dengan Belanda, lalu dicap kooperator. Walaupun kooperator tapi usaha Bapak untuk menyokong perjuangan di hutan tak pernah kurang. Ya kirim makan, ya kirim pakaian. Itu Mas Yok sendiri pernah kirim senjata. Saya juga pernah kirim mesin tulis, kaca mata hitam, ya permintaan para gerilyawan,” ujar Djon.
“Ya kirim apa saja,” sela Yok.
“Untung hanya satu tahun.”
Koeswojo senior yang berperawakan kecil dan kurus bekerja sebagai pegawai pangreh praja di Tuban, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara Jawa Timur, setamat dari sekolah menengah,
Meer Uitgebreid Lager Ondrewijs
(MULO). Sebelumnya ia sempat menjabat asisten wedana di Babad. Uang yang dipakai untuk mengirimkan kebutuhan gerilyawan diperolehnya dari
mark-up
anggaran proyek pemerintah kolonial.
Perkawinannya dengan Atmini dikarunia sembilan anak. Putri pertama, Soemartijah (Tituk), meninggal semasih bayi. Delapan lainnya: Koesdjono (Djon), Koesdini (Dien), Koestono (Tony), Koesnomo (Nomo), Koesjono (Yon), Koesrojo (Yok), Koestami (Miyiek), dan Koesmurni (Nienuk). Keluarga besar ini tinggal di rumah dinas yang sederhana di Jalan Soekohardjo 44. Halamannya yang luas ditumbuhi pohon jambu, mangga, dan asam yang besar. Sumur terletak di halaman rumah. Begitu juga kakus, meski agak menjauh.
Sebagai priyayi, Koeswojo kaku, formal, dan menerapkan perilaku dan tata krama priyayi dalam keluarga. Ia ingin anak-anaknya menjadi sarjana, sehingga bisa dibanggakan kepada kolega-koleganya. Ia tak terbiasa bercanda, agak temperamental, dan berbicara seperlunya. Tak jarang ia menghukum anaknya yang nakal dengan melayangkan gagang sapu ke punggung, menguncikan di kakus, atau menyuruh anaknya duduk bersila hingga sore hari.
Suatu hari, sepulang kantor, Koeswojo menerima laporan perkelahian anak-anaknya. Ia menyuruh anaknya duduk bersila, sementara dia membaca koran. Mereka menurut, dan hanya bisa diam sampai hukuman itu berakhir. Acap kali Miyiek menggoda kakak-kakaknya sambil membawa makanan kecil. Seringkali Atmini harus membela anak-anaknya, yang menyulutkan pertengkaran dengan Koeswojo. Atmini yang berasal dari keluarga kebanyakan adalah wanita Jawa yang sederhana, lemah lembut, dan penyabar.
Koeswojo hobi bermusik. Ia mahir memainkan gitar dan mandau, serta gemar menyanyikan lagu-lagu Hawaiian. Ketika menjadi pegawai pangreh praja, Koeswojo bersama teman-temannya, guru-guru
Hollands Inlanders Schools
, punya perkumpulan musik bernama Tuban Bond yang biasa main di
societeit
(gedung pertemuan). Tapi ia tak ingin anaknya jadi seniman karena kehidupan seniman pas-pasan.
Kehidupan keluarga Koeswojo tak bisa dibilang berkecukupan. Pas-pasan. Anak-anaknya berangkat ke sekolah bertelanjang kaki. Atmini berbisnis kayu dan acap memborong kayu jati, yang kemudian ditumpuk di bawah pohon mangga. Di atas gelondongan kayu jati itu anak laki-laki Koeswojo suka tetabuhan dan menyanyi-nyanyi.
Suatu kali, mereka melingkar di meja makan, siap menyantap hidangan yang telah dipersiapkan Atmini. Beberapa suapan masuk ke mulut.
“Kok nggak enak ya makan begini. Yuk makan di atas meja, mungkin enak ya.”
Mereka naik ke atas meja.
“Kok ya nggak enak. Eh taruh di
dulang
(tampah kayu), dan makannya di bawah pohon yuk.”
Mereka bergerak. Namun nasi tetap tak dimakan, malahan dijadikan mainan dengan irama “pok pyok pong pong pyok.”
Mbok Pah, pembantu Koeswojo, acap harus menangis karena godaan mereka. Namun tangisan itu tak meredakan kenakalan mereka. Ia malah terus diledek, “
Pah bar nangis pling-plang-plong
….”
Yang menonjol adalah Tony. Meski baru berusia empat tahun, Tony suka menabuh ember dan baskom besar-kecil yang dibalik di bawah pohon jambu. Pemukulnya adalah lidi yang ditancapkan pada bunga jambu yang masih kuncup.
Pada 1952, Koeswojo pindah ke Jakarta, bekerja di kementerian dalam negeri. Setelah mendapatkan rumah, ia berniat memboyong seluruh keluarga. Sebelum berangkat, Koeswojo membeli sepatu loakan di Surabaya untuk anak-anaknya. Yon belum mendapatkannya dengan alasan belum ada ukuran yang pas. Beberapa hari kemudian, Yon baru mendapatkannya. Dengan sepatu itu dan baju celana monyet, mereka berangkat menggunakan kereta api berbahan bakar batubara. Beberapa kerabat dan pembantu juga ikut. Rombongan diantar kerabat, tetangga, dan teman-teman anak Koeswojo. Teman-teman Nomo mengikuti sambil membawakan gundu.
Kereta melaju dengan suaranya yang khas. Di stasiun Bojonegoro beberapa saudara Koeswojo telah menunggu. Begitu kereta berhenti, mereka berlari mendekat. Tak lama kemudian kereta pun melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanan itu Yon sempat mencuri telur rebus, bekal ke Jakarta. Ia makan di bawah kolong sambil melihat kaki saudara-saudaranya. Ia tahu persis, jika saudara-saudaranya tahu, mereka akan minta bagian. Yon makan sendirian karena, “Dari kelas satu sampai mau pindah, saya belum pernah makan telur sendirian.”
Jakarta tahun 1950-an masih sepi. Jalan Jenderal Sudirman lengang. Senayan masih berupa kebun karet. Keluarga Koeswojo dijemput mobil kementerian dalam negeri menuju rumah mereka di Jalan Mendawai III/14. Kamar tidurnya hanya dua, berukuran 3 x 3 meter. Ranjang besar yang dibawa dari Tuban tak bisa masuk, sehingga mereka tidur beralaskan tikar dengan selimut
jarik
.
Kehidupan pas-pasan mulai membaik ketika Koeswojo pensiun, dan kemudian bekerja sebagai pegawai administrasi di Bank Timur hingga 1959. Djon juga mulai bekerja sebagai mandor pelaksana di Biro Yayasan Teknik pimpinan Abikoesno Tjokrosuyoso, salah seorang politisi penanda tangan Piagam Jakarta dari Partai Sosialis Islam Indonesia. Berhenti sebagai pegawai bank, Koeswojo bertani dan berbisnis tembakau di Delanggu, Solo. Nienuk ikut ke Solo. Koeswojo pun kerap meninggalkan lima anak laki-lakinya, Dien, dan Miyiek di Jakarta. Dien kemudian menikah dan ikut suaminya. Miyiek ikut bersamanya. Tinggallah lima anak Koeswojo yang mulai menginjak remaja.
YOK masih sibuk dengan batu akiknya
Kembali
Copyright © 2000