Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
KEGIATAN MESIASS

Nasionalisme Butuh Rekomitmen

Jakarta, Kompas - Seluruh kekuatan bangsa perlu melakukan rekomitmen untuk membangun negara yang dicita-citakan pendiri bangsa. Apalagi, nasionalisme sekarang seperti terjepit, antara primordialisme dan kosmopolitanisme. Di bawah ada tarikan dari sekte-sekte dan loyalis primordialisme, sementara di atas ada tarikan kencang untuk melahirkan warga dunia.

Demikian budayawan Nurcholish Madjid dan dosen ilmu politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Eep Saefulloh Fatah ketika berbicara dalam peluncuran buku Revolusi Belum Selesai, yang digelar Soegeng Sarjadi Syndicated di Jakarta, Rabu (20/8).

Menurut Nurcholish, Soekarno-Hatta yang menjadi pendiri bangsa tentu tidak menghendaki negara ini hancur. Meskipun keduanya berbeda pandangan dalam membangun bangsa, semangat penyatuan kedua pendiri bangsa perlu dibangkitkan kembali.

Soekarno ingin menghasilkan pemerintahan yang kuat, tetapi dicampuradukkan dengan pemimpin yang kuat. Karena itu, membangun bangsa perlu buldoser untuk menyingkirkan kotoran, di sinilah revolusi belum selesai. Hatta, sosok sufi yang sabar, menilai revolusi sudah selesai, untuk diperbaiki menjadi pembangunan. "Dua ini kalau disatukan semangatnya sama," ujarnya.

Eep menilai, kerja Soekarno memang banyak yang belum selesai, bahkan langsung meloncat. Soekarno menggabungkan primordialisme dan kosmopolitanisme. Padahal, di tengahnya ada warga negara yang menjadi modal nasionalisme. "Nasionalisme ini tidak bisa dikawinkan dengan otorianisme, tetapi dengan demokrasi," ujarnya.

Eros Jarot yang juga hadir dalam acara itu menilai, pengikut nasionalisme seharusnya membangun kerja-kerja intelektual, mengembangkan pemikiran Soekarno. Bukan cuma mengultuskan lewat gambar-gambar besar.

Revolusi belum selesai

Buku Revolusi Belum Selesai berisi pidato-pidato Soekarno yang belum pernah diterbitkan. Buku itu disunting Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, dua mahasiswa Universitas Diponegoro, dalam dua jilid.

Pidato Soekarno yang tidak dipublikasikan dalam era Orde baru itu bisa menjadi "debat" baru. Pidato 3 Oktober 1965 yang disiarkan RRI Jakarta, misalnya, menarik. "Saudara sekalian. Berhubung dengan beberapa kesalahpahaman yang dapat menimbulkan pertentangan antara pihak -pihak dalam angkatan bersenjata, dan untuk menghilangkan keragu-raguan masyarakat, dan untuk membina kesatuan dan persatuan nasional yang lebih kokoh dalam rangka perjuangan Dwikora, maka dengan ini saya sebagai Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/Pemimpin Besar Revolusi mengumumkan bahwa: Satu, tuduhan terhadap AURI tentang tersangkutnya dalam Peristiwa 30 September adalah tidak benar. Dua, kepergian saya ke Pangkalan Udara Halim pada tanggal 1 Oktober pagi-pagi adalah atas kehendak saya sendiri. Karena saya berpendapat tempat yang terbaik bagiku ialah tempat dekat kapal udara yang dapat mengangkut saya tiap saat ke tempat lain, kalau terjadi sesuatu yang tak diharapkan. Tiga, kita harus tetap waspada jangan sampai AURI dan Angkatan Darat diadu dombakan, sehingga nekolim dan pihak lain akan dapat keuntungannya."

Presiden Soekarno menyadari pidato-pidatonya di-black out, sehingga dia sempat sebulan tidak berpidato sebagai protes. Soekarno memulai lagi berpidato Agustus 1966, sampai akhirnya dia dilengserkan MPRS Maret 1967. (MAM/IIE)

Sumber: Kompas, 21 Agustus 2003



Kembali

 
Copyright © 2000