Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
KEGIATAN MESIASS

Proklamator Itu Tak Lagi Dikenali Siswa SMU

Yogyakarta, Kompas - Hasil penelitian di Kota Semarang oleh Messias (Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah), menyentak berbagai kalangan, karena Proklamator Bung Hatta, ternyata tak lagi dikenali oleh siswa-siswi sekolah menengah tingkat atas (SMTA) di kota tersebut. Mengambil sampel 708 murid sekolah menengah umum (SMU), 80 persen responden tak mengenal Bung Hatta, selain hanya sebagai Wakil Presiden I Republik Indonesia, dan Bapak Koperasi Indonesia.

Dengan latar belakang antara lain hasil temuan itulah, Lembaga Kebudayaan "Karta Pustaka" bekerja sama dengan Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), dan KITLV Jakarta (Lembaga Bahasa, Arkeologi, dan Antropologi Belanda), sejak Selasa (21/10) malam menggelar Pameran Foto "Mohammad Hatta, Hati Nurani Bangsa" hingga tanggal 28 Oktober 2002. Dua agenda besar lainnya, Lomba Esei tentang Bung Hatta untuk murid SMU Kelas III (22 September-22 Oktober 2002), serta diskusi terbatas "Membaca Bung Hatta" (28/10) untuk sejumlah sekolah peserta lomba esei. Ketiga kegiatan, diselenggarakan berkaitan dengan Peringatan 100 Tahun Bung Hatta, sekaligus membangun wacana sejarah bagi murid-murid SMU.

Pameran foto Hatta yang dibuka Dr Faruk HT, Kepala Pusat studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM) semalam, menampilkan 75 keping foto hitam putih, antara lain koleksi Arsip Nasional RI, International Institute for Social History Amsterdam, IPPHOS, KITLV Leiden, Yayasan Idayu, dan koleksi Keluarga Mohammad Hatta. Beberapa foto belum pernah dipublikasikan. Juga akan diperkenalkan buku terbaru terbitan KITLV dan Djambatan, mengenai Bung Hatta karya Deliar Noer yang memuat seluruh foto yang dipamerkan.

Dr Faruk dalam sambutannya semalam mengungkapkan empat hal yang bisa kita pelajari dari Hatta. Pertama sosok Hatta adalah contoh manusia intelektual yang punya tradisi belajar dari membaca sebanyak-banyaknya buku dari sebanyak-banyaknya penulis. Kedua, Hatta adalah sosok yang belajar dari banyak buku dan banyak orang, tetapi sekaligus berusaha mewujudkan gagasan dalam kenyataan. Ketiga, Hatta adalah sosok rasional, yang merepresentasikan nilai yang sangat mengutamakan akal, manakala ia menghadapi kendala dan gap antara teori dan buku-bukunya dan kenyataan di seberang lain. Ia misalnya tidak secara terbuka memprotes Perdana Menteri (PM) dalam system parlementer yang mengimplementasikan program yang buruk. Ia secara pribadi menyurati PM dan berargumen secara rasional. Sedangkan hal keempat tentang Hatta, ialah sisi irrasionalitasnya, karena begitu yakin pada imannya. Ia memiliki iman yang bernama kemanusiaan. Bung Karno minta ampun ketika dipenjara, tapi Hatta tidak, karena ia berdiri di atas kemanusiaan, yaitu kecintaannya pada bangsanya.

Pelajaran sejarah kita

Dalam penjelasan kepada pers, "Karta Pustaka" mengemukakan, pelajaran sejarah kepada siswa SLTP maupun SMU hingga kini masih bertumpu pada peristiwa kontak senjata, dan biografi, atau cerita tentang tokoh perang kemerdekaan. Aspek yang substansial, konseptual, dan ideologis dalam sejarah bangsa Indonesia masih belum tersentuh dalam pelajaran sejarah. Padahal, dengan memahami substansi peristiwa yang menimbulkan kontak senjata, akan membuat siswa bisa mengikuti perjalanan sejarah bangsanya. Dengan memahami substansi, konsep perjuangan dan ideology pemimpin perjuangan waktu itu, siswa bisa menarik benang merah dengan konteks perkembangan sejarah bangsa hingga kini.

Berkaitan dengan hasil penelitiann Messias di Kota Semarang, diduga keras, hal yang sama juga terjadi di kalangan pelajar Yogyakarta. Padahal Bung Hatta mempunyai peran yang luar biasa dalam sejarah pembentukan bangsa dan negara Indonesia sampai pada waktu negara ini mulai berjalan dengan ideologi dan sistem yang diberlakukan ketika itu.

Hatta, adalah pemimpin langka karena kejujurannya. Hatta antikorupsi. Hatta tegas, sederhana, mahir dalam organisasi, dan intelektualitasnya sulit tertandingi hingga kini. "Ia juga dikenal sebagai tokoh yang sangat religius, namun juga demokratis, terbuka, dan bersahabat. Agama bukanlah alat untuk membedakan manusia, sebaliknya agama bagi Hatta adalah cara dan jalan untuk lebih menghargai sesama manusia, menghormati perbedaan, dan memperkaya sifat bijaksana," demikian release panitia. (HRD)

Sumber: Kompas, Selasa, 22 Oktober 2002



Kembali

 
Copyright © 2000