Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
HISTORIOGRAFI
Buku Semarang dalam Kenangan

MEMASUKI usia 455 tahun, Kota Semarang mendapat kado manis dari seorang warganya, Jongkie Tio, yang kemarin meluncurkan buku Kota Semarang dalam Kenangan. Buku yang dilengkapi 250 foto kuno itu berisi tentang perjalanan sejarah Kota Lumpia itu.

Yang menarik, buku tersebut diterbitkan semata-mata karena kecintaan Jongkie pada kota kelahirannya. Sebagian besar foto merupakan hasil jepretan pengusaha rumah makan itu yang kini berusia 80-an tahun. Dia mengumpulkan bahan-bahan foto dan tulisan 40 tahun lebih.

Bahkan editor buku setebal 137 halaman itu, Victor S Winatayudha, tidak sempat melihat hasil kerjanya. Sebab dua bulan sebelum buku itu dicetak, mantan wartawan koran Kuang Po dan Harian Kartika tersebut meninggal dunia.

Tidak mudah memang mengumpulkan foto dan berbagai macam dokumentasi sejak zaman Belanda hingga masa kemerdekaan. Dalam buku tersebut terpampang foto-foto Kota Semarang dari berbagai sudut pada tiga zaman. Mungkin bagi warga Kota Semarang asli, buku itu akan menimbulkan kenangan tersendiri pada masa kecil mereka.

"Saya mengambil foto dan mengumpulkan data sejak SMA," ujar Jongkie Tio. Dalam buku itulah wajah asli Semarang tempo doeloe terlihat nyata.

Salah satu contoh, sebuah foto yang unik tentang suasana kesibukan di seputar Gereja Blenduk pada 1927.

Jalan yang dahulu bernama Heerenstraat itu terlihat masih asri dan alami dan tampak beberapa orang berpakaian seperti orang Belanda saat itu berlalu lalang menggunakan sepeda.

Foto lain menggambarkan suasana Stasiun Tawang pada 1920. Pada saat itu tempat tersebut sudah digenangi banjir. Dengan demikian, jangan heran bila sekarang Tawang menjadi langganan banjir. Ada pula foto tentang sebuah upacara di Alun-alun Semarang (Masjid Kauman) pada 1925 saat dilangsungkan upacara oleh pemerintah Belanda.

Digambarkan pula bagaimana sejarah pasar tertua di Semarang, Pasar Pedamaran, sebelah timur Pasar Johar sekarang. Pasar itu terletak di daerah pecinan dekat jembatan Jurnatan (Jalan H Agus Salim).

Mengapa disebut Pedamaran? "Karena saat itu penduduknya berjualan damar, (bahan untuk membatik), sehingga daerah itu dikenal dengan nama Padamaran," jelas Jongkie.

Tak hanya foto-foto. Di dalam buku yang sengaja dicetak hitam putuh itu juga terdapat foto keluarga Tasripin, tuan tanah yang dterkenal pada masanya karena kekayaan tanahnya. "Tasripin merupakan salah satu nagian dari sejarah Kota Semarang. Jadi saya masukkan bagian dari Semarang tempo doeloe."(Arie Widiarto-76j)*



Kembali

 
Copyright © 2000